Kemandirian Bangsa

Jadikan Bangsa ini Laboratorium Dunia

Seberapa Besar Saham Asing Dalam Telekomunikasi Indonesia

Posted by rizalforbes on August 11, 2007

Saham asing dalam telekomunikasi di indonesia

Posted by Leksa:

Sebenarnya ini adalah bentuk keprihatinan terhadap besarnya infiltrasi asing dalam objek vital bangsa.

Telekomunikasi adalah objek vital bangsa yang tidak usah
dipertanyakan lagi. Karena menurut apa yang gue baca2, ada 4 objek
vital suatu bangsa yang berpengaruh terhadap kemandirian bangsa
tersebut. Pertambangan - Migas, Pendidikan, Pertanian/Perternakan dan
Telekomunikasi.

Dan teman2 bisa melihat sejauh apa pengaruh asing terhadap objek2
vital ini di Indonesia. Dan sekarang gue sekedar sharing data yang gue
dapat untuk objek vital telekomunikasi.

Perkembangan dunia telekomunikasi di Indonesia sudah
mencapai tahap yang mengagumkan. Pada September 2006 data menunjukan
bahwa pengguna Ponsel di Negeri ini sudah mencapai angka yang cukup
fantastis. Pengguna Ponsel mencapai lebih dari 38 juta pelanggan atau
sekitar 17,28 % dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini
adalah jumlah mereka yang hanya menggunakan operator yang menyediakan
layanan berbasis teknologi GSM (Global Satellite Mobile) belum ditambah
lagi mereka yang menggunakan operator yang menyediakan layanan berbasis
teknologi CDMA (Code Digital Multiple Access).

Tanpa ampun trend menggunakan Ponsel ini sudah
merambah ke semua lapisan masyarakat dari semua golongan baik itu di
daerah pedesaan maupun di kota-kota besar. Ponsel sudah menjadi semacam
instrumen untuk menaikan status sosial dari seorang individu, bahkan
banyak yang menjadikannya sebagai life style dengan alasan kebutuhan
akan komunikasi dan informasi yang cepat. Tentunya hal ini adalah
sesuatu yang positif dan bisa dipahami di satu sisi, tetapi apabila
tidak diawasi dengan semestinya oleh pemerintah sebagai regulator
sistem telekomunikasi di
Indonesia
ini, maka perkembangan dunia telekomunikasi ini akan menjadi boomerang
yang memungkinkan terbukanya celah dalam sistem pertahanan dan keamanan
negara.

Saya terngiang dengan kalimat “Asal masih GSM !”
Hal inilah yang kemudian mendorong saya mengambil inisiatif lebih
lanjut untuk menganalisis menggunakan pendekatan Potential Risk Assessment (PRA) dalam perspektif pertahanan.

Dalam teknologi telekomunikasi nirkabel, setiap
modulasi yang terkirim dalam pelayanan kepada para pelanggannya pasti
dalam keadaan encrypted dengan kode binary yang memang diciptakan khas,
tidak mengikuti aturan umum sehingga tidak mudah dipecahkan. Jangankan
untuk intercepting apalagi penyadapan, untuk mengakses server induknya
saja pasti sudah sangat kesulitan. Kecuali ada yang “bermain” di balik
itu semua, dengan memberikan key code binary untuk decryption sehingga
memudahkan langkah decoding setiap modulasi. Saya mencoba melakukan
deep study tentang dunia telekomunikasi di Indonesia ini khususnya
operator seluler yang menggunakan teknologi berbasis GSM. Hasilnya
cukup memuaskan saya, hipotesa saya terbukti.

Di Indonesia ini ada 3 operator seluler besar yang menggunakan teknologi berbasis GSM yaitu PT.
Telekomunikasi Indonesia Seluler Tbk. (Telkomsel), PT. Indonesian
Satellite Corporation Tbk. (Indosat), dan PT. Excelcomindo Pratama Tbk.
(Pro XL).
Kalau dilihat sekilas memang tidak ada yang salah
dengan ketiga perusahaan itu. Tetapi ketika diselidiki lebih jauh
Corporate Insight nya, maka akan ditemukan potensi terbukanya masalah
national security ini. Berikut ini adalah data Biro Transaksi dan
Lembaga Efek dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
(BAPEPAM) per Oktober 2006 tentang komposisi pemegang saham dari 3
perusahaan telekomunikasi ini :

1. PT. Telekomunikasi Indonesia Seluler Tbk. (Telkomsel)
Singapore Telecom + publik asing : 37,86 %
Pemerintah Indonesia + publik Indonesia : 62,14 %
2. PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat)
Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. + publik asing : 86,62 %
Pemerintah Indonesia + publik Indonesia : 13, 38 %
3. PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (Pro XL)
Telekom Malaysia Berhad + publik asing : 85,07 %
Telekomindo Primabhakti + publik Indonesia : 14,93 %

Lihat saja angka-angka tersebut. Wajar logikanya kalau saya mengatakan bahwa telekomunikasi di Indonesia sudah tidak “berbendera Merah Putih” lagi. Kalau boleh diambil rata-ratanya, maka kepemilikan asing akan saham perusahaan-perusahaan telekomunikasi di Indonesia
mencapai angka 69,85 %. Kepemilikan saham yang hampir mencapai 70 %
inilah celah keamanan yang tidak diperhatikan oleh aparat-aparat yang
berkepentingan dalam hal ini.

Saya mencoba menyelidiki tentang
perusahaan-perusahaan asing ini. Tentunya dimulai dari kepemilikan atas
saham perusahaan-perusahaan tersebut. Saya meminta bantuan seorang
teman di Singapore untuk melacak kepemilikan saham dari Singapore
Telecom Inc. dan Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. Hasilnya
cukup lumayan untuk membuat saya curiga. Setengah dari saham
perusahaan-perusahaan tersebut memang dimiliki oleh pemerintah Singapore,
tetapi sebagian kecil yaitu sekitar 20 % lebih dimiliki oleh seorang
Spekulan Valas Yahudi yang pernah mengacak-acak konstelasi perekonomian
Asia Tenggara pada dekade 90-an. Dia adalah George Soros.
Sekalipun tidak secara langsung, tetapi salah satu anak perusahaan dari
Soros Corporation Holding Co. memiliki saham kedua perusahaan ini.
Meskipun kepemilikan saham atas kedua perusahaan ini cukup kecil
dibanding pemerintah Singapore, tetapi munculnya nama ini dalam deretan
para pemegang saham Singapore Telekom Inc. dan Singapore Technologies
Telemedia Pte. Ltd. cukup menimbulkan kecurigaan dalam benak saya
terhadap setiap policy kedua perusahaan ini di
Indonesia.

Kalau diselidiki lebih dalam lagi, maka
komposisi saham yang sedemikian besar dari kedua perusahaan Singapore
ini atas perusahaan-perusahaan telekomunikasi di
Indonesia
akan memberikan berbagai macam konsekuensi tersendiri di dalam
manajemen perusahaan tersebut. Pihak pemilik saham yang lebih banyak
akan menaruh orang-orangnya di dalam manajemen inti dengan porsi yang
lebih banyak pula dalam perusahaan tersebut. Analoginya mirip partai
politik yang memenangkan suara terbanyak sehingga memiliki banyak wakil
di parlemen, demikian pula pemegang saham dan Dewan Komisaris di dalam
sebuah perusahaan.

Orang-orang yang ditaruh di dalam manajemen inti
sebuah perusahaan ini tentunya memiliki pengaruh besar dalam setiap
policy dan keputusan-keputusan yang diambil perusahaan. Ekses negatif
lainnya adalah, orang-orang yang duduk di manajemen inti inilah yang
memegang banyak rahasia perusahaan termasuk sistem keamanannya.

Terlalu panjang kalau saya ceritakan di sini
tentang latar belakang mereka satu persatu. Setidaknya ada beberapa
orang dari mereka yang berasal dari Singapore yang bisa saya sebut di
sini seperti Peter Seah Lim Huat, Lee Theng Kiat, Sio Tat
Hiang, Sum Soon Lim, Lim Ah Doo, Ng Eng Ho, Joseph Chan Lam Seng,
Raymond Tan Kim Meng, dan Wong Heang Tuck
.

Dari closed source yang saya dapatkan,
mengkonfirmasikan kebenaran hal tersebut. Ada kemungkinan mereka bukan
hanya seorang businessman saja, bisa jadi Mossad Agent atau
sekurang-kurangnya orang-orang binaan yang dimanfaatkan, karena harus
diingat bahwa Singapore adalah sahabat karib Israel di Asia Tenggara. Tidak salah rasanya kalau saya menilai dari sinilah sumber kebocoran enskripsi telekomunikasi
Indonesia.

Saya mencoba menarik benang merah yang merangkum
semuanya. “Asal masih GSM, berita itu milik kami !” Saat ini saya tidak
lagi terheran-heran kalau para Hulubalang Mossad (intel Israel - red )
mampu dengan mudah menyadap banyak informasi, ataupun
pembicaraan-pembicaraan penting yang dilakukan melalui Ponsel berbasis
teknologi GSM (saya tidak tahu bagaimana dengan nasib CDMA). Tapi saya
ingin menekankan bahwa, bahkan orang paling bodoh di negeri ini pun
akan tahu masa depan negeri ini kalau 17,28 % warga negaranya
dimata-matai secara sistematis dan terorganisir oleh negara lain yang
memang menghendaki kehancurannya. Anda tahu yang saya maksud. Saya menghimbau pada pemerintah dan semua komunitas intelijen yang ada, seriuslah dalam mengemban tugas negara.
Kalau orang segoblok saya dengan ketrampilan, tenaga, dana, fasilitas,
dan waktu yang terbatas saja masih bisa mendeteksi sampai sejauh ini
meskipun tidak detail, apalagi kalian yang dibekali dengan pendidikan,
pelatihan, dana, dan fasilitas yang memadai, harusnya bisa jauh lebih
dalam dari ini semua. Kami sebagai warga negara ingin melihat hasilnya.

“Asal masih GSM, berita itu milik
kami !” saya berharap statement mereka akan berubah menjadi “Kalau
sudah GSM, berita itu bukan milik kami !”

Berita ini mungkin cenderung memposisikan pihak Singapore - Israel
sebagai infiltrant terbesar di Indonesia di bidang telekomunikasi.
Namun yang gue tekankan dari informasi tersebut, bahwa sangat penting
untuk memahami kondisi penguasaan asing terhadap Telekomunikasi
Indonesia.

Bagaimana dengan Internet Provider? Sebagai info kuping ke kuping
saja, beberapa provider besar Indonesia mengikat kontrak yang
spektakuler dengan Provider Asing, bahkan sekarang sebuah warnet saja
dapat dengan mudah memiliki ikatan kontrak dengan satelit Singapura
dalam menjalankan bisnisnya. Belum lagi jika melihat perkembangan
telekomunikasi nirkabel Indonesia yang saat ini booming dengan konsep
GSM Mobile Connectivity, 3G dan akses Internet lewat GSM. Bukannya gue
paranoid. Tetapi setidaknya menjadi perhatian bersama, dan sebagai
bangsa yang berusaha untuk mandiri, seharusnya pemerintah bisa mengatur
berbagai kebijakan yang vital terhadap telekomunikasi dan objek vital
kita lainnya, istilah kerennya memproteksi.

Dengan angka rata2 penguasaan saham hampir 70%, bisa dikatakan
kekuatan bangsa ini di bidang telekomunikasi sudah mengkhawatirkan.
Tidak perlu bicara mengenai perang inteligen dalam masalah intercept -
penyadapan (itu bukan urusan gue, ada yang bertanggung jawab disitu).
Berbicara masalah aturan main dan regulasi-kebijakan saja, tentunya
kita sudah kalah. Dalam konsep kapitalisme global, pemegang modal
adalah penguasa, kebijakan - regulasi vital akan ditentukan oleh
komisariat perusahaan. Dan untuk kondisi saat ini, dimana posisi
Indonesia yang hanya memiliki 30% hak-nya?

Demikian informasi yang mau gue share buat teman2. Semoga menjadi
bahan masukan berharga, betapa berharganya posisi telekomunikasi di
Negara ini, dan seberapa parah para pengusaha Telekomunikasi kita
melacurkan negerinya sendiri.

—————-

NB : gue edit sebisa mungkin untuk mengaburkan pemilik info
tersebut. Tapi pada intinya gw hanya ingin menyampaikan sebuah opini
terhadap publik dalam rangka kewaspadaan nasional.

Leave a Reply



XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>